Jumat, 27 April 2018

Pengertian PLTU dan pola pengoperasian

             BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Umum PLTU
PLTU adalah singkatan dari Pembangkit Listik Tenaga Uap. Pembangkit ini memiliki ketel uap atau boiler yang berfungsi memanaskan air menjadi uap superheat atau uap bertemperatur dan bertekanan tinggi yang digunakan untuk memutar sudu-sudu turbin. Sudu-sudu turbin yang berputar akan memutar poros turbin yang dihubungkan dengan poros generator, sehingga akan menghasilkan energi listrik. Seperti yang kita ketahui bahwa generator berfungsi untuk mengubah energi mekanik (poros turbin yang berputar) menjadi energi listrik yang nantinya akan disalurkan ke gardu induk melalui transformator. PLTU pada umumnya menggunakan bahan bakar minyak dan batubara. PLTU yang menggunakan minyak sebagai bahan bakarnya memiliki gas buang yang relatif bersih dibandingkan dengan PLTU yang menggunakan batubara. PLTU batubara lebih cocok dipakai pada wilayah yang memiliki kandungan batubara yang banyak seperti Kalimantan dan Sumatera.
2.1.1 Prinsip Kerja PLTU
Sebuah boiler bekerja sebagai sebagai wadah yang mengalami pembakaran batubara dan bed material lainnya di dalam boiler tersebut, kemudian panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar akan memanaskan barisan-barisan pipa air. Air harus senantiasa berada dalam keadaan mengalir walaupun dilakukan dengan pompa. Sebuah drum berisi air dan uap bertekanan dengan temperatur yang tinggi mengalirkan uap menuju turbin. Boiler drum itu juga menerima air pengisi yang dialirkan dari kondensor.
Uap mengalir ke turbin dengan tekanan tinggi setelah melewati superheater agar meningkatkan temperatur sampai menjadi uap superheat (temperatur 4300c -5400c). Dengan demikian uap akan menjadi uap jenuh yang kering dan efisiensi seluruh PLTU meningkat. Turbin tekanan tinggi mengubah energi termal menjadi energi mekanika dengan mengembangnya uap yang melewati sudu-sudu turbin. Dengan demikian uap otomatis akan mengalami penurunan tekanan dan temperatur. Untuk meningkatkan efisiensi dan menghindari kondensasi terlalu dini, uap melewati pemanas ulang, yang juga terdiri dari barisan pipa-pipa yang dipanaskan. Uap yang sudah melalui pemanas ulang mengalir menuju turbin tekanan menengah. Turbin yang lebih besar dari pada turbin tekanan tinggi ini mengalirkan uap ke turbin tekanan rendah dimana untuk setiap turbin yang sudah dilewati oleh gas tersebut akan berputar pada porosnya. Karena generator seporos dengan turbin, maka generator ikut berputar. Dengan berputarnya generator dan terpenuhinya persyaratan listriknya maka generator akan menghasilkan tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
Uap ekstraksi dari turbin, selanjutnya didinginkan dengan air pendingin di dalam kondensor, sehingga tergadai proses kondensasi. Air pendingin dapat berasal dari air laut, air sungai, atau teluk terdekat. Air hangat yang meninggalkan kondensor di pompa kembali ke sebuah pemanas awal sebelum dikembalikan lagi ke dalam boiler drum.
2.1.2 Komponen-Komponen PLTU
Bagian utama dari PLTU pada umumnya adalah:
1.    Boiler, berfungsi mengubah air (feed water) menjadi uap panas lanjut (superheated Steam) yang akan digunakan untuk memutar turbin.
2.    Turbin uap, berfungsi untuk mengkonversi energi panas yang dikandung oleh uap menjadi energi putar (energi mekanik). Poros turbin mengkopel generator yang ikut berputar.
3.    Kondensor, berfungsi untuk mengkondensasikan uap bekas dari turbin (uap yang telah digunakan untuk memutar turbin).
4.    Generator, berfungsi untuk mengubah energi putar dari turbin menjadi energi listrik.



Gambar 2.1 Konversi energi PLTU

Peralatan penunjang pada PLTU pada umumnya adalah:
1.    Desalination Plant (Unit Desal), peralatan ini berfungsi untuk mengubah air laut (brine) menjadi air tawar (fresh water) dengan metode penyulingan (kombinasi evaporasi dan kondensasi). Hal ini dikarenakan sifat air laut yang korosif, sehingga jika air laut tersebut dibiarkan langsung masuk ke dalam unit utama, maka dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan PLTU.
2.    Reverse Osmosis (RO), mempunyai fungsi yang sama seperti Desalination Plant, namun metode yang digunakan berbeda. Pada peralatan ini digunakan membran semipermeable yang dapat menyaring garam-garam yang terkandung pada air laut, sehingga dapat dihasilkan air tawar seperti pada Desalination Plant.
3.    Demineralizer Plant (Unit Demin), berfungsi untuk menghilangkan kadar mineral (ion) yang terkandung dalam air tawar. Air sebagai fluida kerja PLTU harus bebas dari mineral, karena jika masih mengandung mineral berarti konduktifitasnya masi tinggi sehingga dapat menyebabkan terjadinya ggl (gaya gerak listrik) induksi pada saat air tersebut melewati jalur perpipaan di dalam PLTU. Hal ini dapat menimbulkan korosi pada peralatan PLTU.
4.    Hidrogen Plant (Unit Hidrogen), pada PLTU digunakan hydrogen (H2) sebagai pendingin generator
5.    Chlorination Plant (Unit Chlorin), berfungsi untuk menghasilkan senyawa atrium hipoclorit (NaOCl) yang digunakan untuk memabukkan atau melemahkan sementara mikro organisme laut pada area water intake. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penumpukan (Scaling) pada pipa-pipa kondensor maupun unit desal yang diakibatkan pengembang biakan mikro organisme laut tersebut.
6.    Auxiliary Boiler (Boiler Bantu), pada umumnya merupakan boiler berbahan bakar minyak (fuel oil), yang berfungsi untuk menghasilkan uap (Steam) yang digunakan pada saat boiler utama Start uap maupun sebagai uap bantu (auxiliary steam)
7.    Coal Handling (Unit Pelayanan Batubara), merupakan unit yang melayani pengolahan Barbara yaitu dari proses bongkar muat kapal (ship unloader) di dermaga, penyaluran ke Coal yard sampai penyaluran ke Coal Bunker.
8.    Ash Handling (Unit Pelayanan Abu), merupakan unit yang melayani pengolahan abu baik itu abu jatuh (bottom ash) maupun abu terbang (fly ash) dari Electrostatic Precipitator dan Draig Cooler System pada unit utama sampai ke tempat penampungan abu (ash valley/ash yard).
Tiap-tiap kemponen utama dan peralatan penunjang dilengkapi dengan sistem-sistem dan alat bantu yang mendukung kerja komponen tersebut. Gangguan atau malfuntion dari salah satu bagian komponen utama akan dapat menyebabkan terganggunya seluruh sistem PLTU.
2.2 Perencanaan Operasi 
2.2.1 Tujuan Pengoperasian
Tujuan utama pengoperasian pembangkit tenaga listrik adalah memastikan kehandalan, yang berarti pasokan listrik terus menerus dalam range (rentang) variasi tegangan dan frekuensi yang diperbolehkan. Biasanya dalam nominal kecil atau rendah. Pada dasarnya ini memerlukan adanya kecocokan output dari sistem pembangkitan dengan beban, suatu proses yang mempertimbangkan variasi beban dan daya yang dibangkitkan dalam satu detik hingga beberapa tahun.
2.2.2 Perencanaan Operasi Jangka Panjang 
Rencana operasi jangka panjang dilaksanakan berdasarkan suatu perencanaan kebutuhan produksi jangka panjang yang digambarkan dalam dokumen "Prosedur Proses Pembuatan Rencana Jangka Panjang dan Anggaran” dilaksanakan untuk periode operasi lima tahunan.  Mengikuti "Prosedur Proses Perencanaan Jangka Panjang", Rencana operasi jangka panjang meliputi:  
a.    Tinjauan ulang kejadian kritis yang telah lalu.
b.    Tindakan yang diperlukan untuk suatu operasi yang aman, andal, efisien dan ramah lingkungan
c.    Perubahan rencana produksi, 
d.   Perubahan di dalam aturan yang diwajibkan PLN, 
e.    Perubahan unjuk kerja pembangkit  dan peralatan
f.     Kebutuhan investasi.  
Target operasi pembangkit dan syarat pemeliharaan preventif dan outage direncanakan tahunan.  
Proses perencanaan meliputi semua kesesuaian tugas yang diperlukan untuk mengidentifikasi sumber daya dan biaya-biaya yang diperlukan untuk :  
a.    Perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia yang diperlukan sesuai rencana produksi jangka panjang
b.    Pengujian / performace test / audit peralatan
c.    Perencanaan pola operasi  
2.1.3 Perencanaan Operasi Tahunan 
Perencanaan operasi tahunan dibuat atas dasar  kebutuhan produksi tahunan. Perencanaan sasaran  operasional dari pembangkit sudah mempertimbangkan persyaratan pemeliharaan untuk preventif dan outages yang direncanakan .  
Proses perencanaan meliputi semua tugas yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi sumber daya dan biaya-biaya yang diperlukan adalah :
a.    Pastikan bahwa personil operator sudah memiliki kemampuan yang diperlukan untuk mengoperasikan pembangkit dengan  baik dalam situasi operasi normal, tidak normal dan darurat mengacu  prosedur/IK yang berlaku. 
b.    Mengatur Daftar Shift 
c.    Pelatihan personil baru.  
d.   Pelatihan personil yang ada jika dibutuhkan. 
e.    Penerimaan karyawan
f.     Perencanaan rotasi personil operator
g.    Mematuhi rencana pemeliharaan tahunan 
h.    Pengembangan prosedur-prosedur
i.      Proyek / pekerjaan khusus 
Kebutuhan pelatihan telah digambarkan secara keseluruhan di dalam dokumen "Prosedur Proses Pengembangan Sumber Daya Manusia". 

2.1.4 Perencanaan Operasi Jangka Pendek 
Rencana Operasi Jangka Pendek adalah merupakan turunan perencanaan operasi tahunan yang diuraikan menjadi  bulanan, mingguan dan harian di bawah tanggung jawab  Manajer Operasi.   Rencana operasi harian dan mingguan  dilaksanakan berdasarkan  keperluan produksi  jangka pendek, dan harus mempertimbangkan kebutuhan pemeliharaan untuk  preventive dan outages yang direncanakan, seperti:  
a.    Keperluan operasi  (Shut-down dan Start up ) 
b.    Management/Optimisasi pada Daftar Shift 
c.    Pelatihan pada personil baru. 
d.   Pelatihan pada personil yang ada jika dibutuhkan.  \
e.    Mematuhi rencana pemeliharaan. 
f.     Proyek/Pekerjaan Khusus. 
Manajer Operasi harus memastikan setiap operator  memiliki sertifikat yang sah dan masih  berlaku seperti: 
a.    Semua operator  wajib mempunyai  "Sertifikat Kompetensi” yang dikeluarkan oleh lembaga yang berwenang
b.    Semua analis kimia laboratorium wajib mempunyai "Sertifikat  Kimia Laboratorium"
c.    Semua operator alat berat dan angkat-angkut wajib mempunyai "Sertifikat Operator Alat Angkat dan Angkut" 
Pemberian ijin pada personil yang akan melakukan pekerjaaan operasi secara aman telah digambarkan di dalam dokumen " Ijin Kerja".    
2.3 Jenis-Jenis Pengoperasian
2.3.1 Operasi Harian  
Dokumen "Prosedur Operasi Harian"  menjelaskan tindakan pengoperasian harian pembangkit pada kondisi normal.  Operasi harian terdiri atas: 
a.    Implementasi rencana operasi harian (ROH)
b.    Koordinasi dengan UPB atau Unit Pengatur Beban (Prosedure Komunikasi dengan UPB) 
c.    Komunikasi dengan pihak internal dan eksternal  
d.   Pengaturan Daftar Tugas Shift (Dokumen Pengaturan Kerja Shift) 
e.    Tagging System dan penerbitan ijin kerja (LOTO)
f.     Pengumpulan dan Penyimpanan Data Operasi (Pengarsipan dokumen laporan Operasi)
g.    Membantu investigasi kecelakaan kerja ( Manajemen Kecelakaan Kerja) 
h.    Laporan Operasi (Dokumen  Laporan Operasi)
i.      Pelaksanaan pengecekan dan kebersihan oleh operator yang bertugas meliputi kencangkan, lumasi dan bersihkan (FLM)   
2.3.2 Pengoperasian Pembangkit 
Tugas utama dalam pengoperasian pembangkit seperti tertuang dalam dokumen Operasi Normal adalah sebagai berikut: 
a.    Start-up unit dijelaskan pada Prosedur Start-Up Unit
b.    Start – Stop peralatan pada IK Start – Stop Peralatan
c.    Pengujian rutin peralatan dijelaskan pada Prosedur Pengujian Rutin Peralatan Pembangkit.
d.   Pengaturan beban unit pembangkit dijelaskan pada Prosedur Operasi Harian
e.    Shut-down normal unit pembangkit dijelaskan pada Prosedur Shut-down Unit Pembangkit
f.     Pembangkit stand-by dijelaskan pada Prosedur Pembangkit Stand-by. 
Semua kegiatan pengoperasian dilakukan berdasarkan rencana produksi dengan  memonitor peralatan utama dan peralatan bantu mengacu pada prosedur kerja, instruksi kerja dan checklist. Praktek Pengoperasian secara terperinci (detail ) dan perbedaan proses teknis pada sistem dan peralatan dijelaskan didalam OEM Manual dan penambahan prosedur atau instruksi. 
Petunjuk pengoperasian sistem lainnya, termasuk di dalamnya pemenuhan terhadap peraturan Lingkungan Hidup dan K3 dijelaskan pada masing-masing prosedur  berikut: 
a.    Coal Handling System dijelaskan pada Prosedur Penerimaan dan Pembongkaran Batubara di Dermaga serta Prosedur Penyaluran Batubara.
b.    Sistim Penanganan Abu (Ash Handling System) dijelaskan pada Prosedur Penyaluran Abu.
c.    Pemenuhan peraturan Lingkungan & K3 secara keseluruhan dijelaskan pada Prosedur Pengelolaan Lingkungan & Prosedur Pengelolaan K3. 


2.3.3 Pemantauan dan Evaluasi Kinerja Operasi
Parameter kunci dalam Pemantauan Kinerja Pembangkitan dijelaskan dalam Instruksi Kerja. Pemantauan itu akan menjadi bagian dari tugas-tugas normal untuk Operator. SPS Operasi dan SPS Rendal Operasi bertanggung jawab atas pemantauan sehari-hari dan pelaksanaan tindak lanjut dari pengukuran-pengukuran.  
Hasil pemantauan kinerja dilaporkan secara rutin kepada Manajer Enjiniring dan di tembuskan ke Manajer Operasi. Aktivitas pemantauan kinerja jangka pendek dan yang berkelanjutan serta pemantauan  jangka panjang dijelaskan dalam Instruksi Kerja Pemantauan Kinerja Operasi Pembangkit.
Seluruh pemantauan kinerja pembangkitan didasarkan pada OEM Manual dan checklist.  
Evaluasi kinerja operasi yang terukur sebagai berikut: 
a.    Sebagai suatu bagian dari kesiapan pembangkit yang dicapai, pengoperasian yang menyebabkan hilangnya kesempatan (waktu dan produksi listrik netto) akan dianalisa dibandingkan dengan target yang telah disepakati. Definisi dan terjemahan penyesuaian menurut  Prosedure Pengukuran dan Pelaporan Kinerja Pembangkit.
b.    Konsumsi spesifik Pembangkit yang aktual untuk batubara/bahan bakar minyak/kimia pengolahan air maupun pemakaian spesifik auxiliary jika dibandingkan dengan target yang disetujui. Definisi dan terjemahan menurut Prosedure Pengukuran dan Pelaporan Kinerja Pembangkit
c.    Memenuhi sasaran lingkungan yang ditetapkan selama operasi satu tahun. Definisi dan terjemahan menurut Dokumen RKL-RPL.  
2.3.4 Pengujian / Testing   
Peralatan utama pembangkit dilakukan pengujian sebagai berikut : 
a.    Pengujian rutin (mingguan, 2 mingguan, bulanan) 
b.    Pengujian wajib (bulanan, tahun, selama start-up dan shut-down pembangkit), sesuai dengan rekomendasi pabrikan. 
c.    Pengujian/performance test setelah perbaikan / overhaul 
d.   Lingkup Pengujian meliputi :
·         Elektrik impuls antara Control Room dan peralatan
·         Semua tombol-tombol start stop & emergency dapat bekerja dengan baik 
·         Semua peralatan dapat dioperasikan dan diberhentikan secara manual/lokal dan Control Room  
·         Tidak terjadi kebocoran pada peralatan uji tekanan atau vacuum 
·         Peralatan Uji signal dan Proteksi berfungsi dengan baik
·         Ketersediaan peralatan cadangan
Jika pelaksanaan pengujian dapat mempengaruhi operasional pembangkitan dan/atau keselamatan orang atau peralatan, maka pengujian tersebut harus dikordinasikan dengan pihak-pihak terkait, dalam hal ini bidang Pemeliharaan & K3. 
Pengujian mingguan dikendalikan oleh fungsi Rendalops sesuai daftar uji peralatan. Pengujian tahunan (performance test) dilakukan sesuai dengan jadwal Overhaul. 
Semua temuan dicatat dan didokumentasikan.
2.3.5 Sampling  
Personil laboratorium mempunyai suatu tugas untuk mengambil sampel: siklus air-uap, bahan bakar dan pelumas, yang selanjutnya  dilakukan analisa dilaboratorium untuk memastikan kualitas dan memberi rekomendasi perbaikan apabila terjadi ketidaksesuaian kualitas. 
Sampel tersebut diatas telah diatur dalam Instruksi Kerja Penanganan Sampling  
2.3.6 Patrol Check 
Dalam melaksanakan kegiatan operasi, khusus operator local (turbine, boiler, BOP, coal & Ash) melakukan patrol check. Aktifitas Patrol Check dapat meningkatkan kepekaan operator terhadap peralatannya karena secara rutin terus berinteraksi dengan peralatan yang di operasikan. Lingkup pekerjaan Patrol Check setidaknya meliputi kegiatan perabaan/sentuh peralatan, pengukuran temperatur& getaran dengan alat sederhana, visual check dan membersihkan peralatan. Aktifitas ini bisa dilakukan pada periode tertentu setiap shiftnya. 

2.3.7 First Line Maintenance 
First Line Maintenance (FLM) adalah serangkaian aktifitas yang dilakukan oleh Operator untuk menjaga dan meningkatkan kehandalan peralatan yang dioperasikannya.Ruang lingkup aktifitas First Line Maintenance meliputi tapi tidak  terbatas pada: 
1.    Menambah pelumas/grease
2.    Pengencangan Baut
3.    Pembersihan Filter
4.    Pembersihan peralatan 
Kegiatan FLM sendiri dilaksanakan berdasarkan hasil laporan operator yang melakukan patrol check, laporan pegawai/mitra atau temuan operator dliuar aktifitas patrol check. Mekanisme pelaksanaan FLM diatur didalam prosedure FLM dan masuk dalam proses Maximo.
3.2 Pengenalan Boiler CFB
3.2.1 Prinsip Kerja
Pada furnace boiler tipe CFB kecepatan gas lebih cepat daripada boiler fluidized bed yang sistem bubling.  Agar kepadatan yang ada didalam furnace yaitu bed material dapat terangkat, dan mengalir maka diperlukan nilai kecepatan gas minimum agar partikel dapat terangkat dan keluar furnace. Pembakaran bahan bakar padat didalam furnace terjadi akibat turbelensi, berbenturan dengan media pembakar yaitu pasir.  Sisa bahan bakar padat yang belum terbakar akan sirkulasi melalui cyclone/compact separator.
A.      Pembakaran
Proses pembakaran yang terjadi pada boiler CFB dapat dijelaskan sebagai berikut, pasir sebagai bed material pertama kali akan dipanaskan oleh pembakaran burner sampai temperatur bed 600oC. 
            Fungsi pasir adalah sebagai media penyerap panas, penyimpan panas dan pelepas panas.  Setelah temperatur bed tercapai 600oC maka batubara dapat dimasukkan secara perlahan-lahan dengan jumlah yang minimum.
            Kenaikan temperatur harus tetap dijaga maks. 90 oC – 135 oC (tergantung disain pabrikan)
B.       Sistem gas buang
Pada sistem PLTU terdapat sistem yang memanfaatkan dan mengatur aliran sistem gas buang (flue gas). Gas buang adalah gas sisa hasil pembakaran. Gas buang masih memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan kembali yaitu temperaturnya, sehingga dapat digunakan sebagai pemanas steam superheater, udara (air heater) dan pemanas air pengisi di economizer. ElectroStatic Precipitator (ESP) adalah salah satu alternatif penangkap debu dengan effisiensi tinggi (mencapai diatas 90%) dan rentang partikel yang didapat cukup besar. Dengan menggunakan electro static precipitator (ESP) ini, jumlah limbah debu yang keluar dari cerobong diharapkan hanya sekitar 0,16 % (efektifitas penangkapan debu mencapai 99,84%). Flue gas awalnya bermuatan netral, setelah melalui suatu medan listrik yang terbentuk antara discharge electrode dengan collector plate, fakan terionisasi sehingga partikel debu tersebut menjadi bermuatan negatif (-). Partikel debu yang sekarang bermuatan negatif (-) kemudian menempel pada pelat-pelat pengumpul (collector plate), Debu yang dikumpulkan di collector plate dipindahkan kembali secara periodik dari collector plate melalui suatu getaran (rapping). Debu ini kemudian jatuh ke bak penampung (ash hopper) dan ditransport ke flyash silo
C.  Sirkulasi Air dan Uap
Economizer adalah Heat Exchanger (penukar kalor) yang dipasang pada saluran air pengisi sebelum air masuk ke Boiler Drum.  Konstruksi Economizer berupa sekelompok pipa-pipa kecil yang disusun berlapis-lapis. Karena temperatur gas panas lebih tinggi dari temperatur air pengisi maka gas panas menyerahkan panas kepada air pengisi sehingga temperatur air pengisi menjadi naik dan diharapkan mendekati titik didihnya, tapi jangan melampaui titik didih karena akan menyebabkan terbentuknya uap di dalam pipa Economizer dengan akibat lebih lanjut terjadi overheating pada pipa tersebut. Boiler Drum adalah  bejana tempat menampung air yang datang dari Economizer dan uap hasil  penguapan dari Tube Wall  ( Riser). Kira-kira separuh dari drum berisi air dan separuhnya lagi berisi uap. Level air didalam drum harus dijaga agar selalu tetap kira-kira  separuh dari tinggi drum. (Steam Flow ≤ Eco Inlet). Pengaturan level didalam Boiler Drum  dilakukan dengan mengatur besarnya pembukaan Flow Feedwater Control Valve. Apabila level didalam air drum terlalu rendah/tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya Overheating pada pipa-pipa Boiler, sedangkan bila level drum terlalu tinggi, kemungkinan butir-butir air terbawa uap ke turbin dan mengakibatkan kerusakan pada turbin. Selain berfungsi untuk membuat air menjadi uap, tube wall juga mencegah penyebaran panas dari dalam furnace ke udara luar dan untuk lebih menjamin agar panas tersebut tidak terbuang ke udara luar melewati tube wall, maka dibalik tube wall (arah udara luar) dipasang dinding isolasi yang terbuat dari mineral fiber. Sedangkan  pada down comer merupakan pipa yang berukuran besar, menghubungkan bagian bawah boiler drum dengan lower header. Down comer (pipa turun) tidak terkena panas secara langsung dari ruang bakar. Dan untuk menghindari kerugian panas yang terbuang pada down comer, maka down comer diberi isolasi.
Aliran sirkulasi uap yang terjadi adalah sebagai berikut :
      Uap jenuh dari steam drum dialirkan ke primary superheater. Primary superheater terletak dibagian belakang dari Boiler dan menerima gas relatif dingin. Pipa-pipa biasanya diatur dengan konfigurasi horizontal.
              Uap yang dipanaskan ini selanjutnya mengalir ke secondary superheater yang terletak pada bagian gas sangat panas. Sebagian dari superheater terletak tepat diatas ruang bakar dan menerima panas radiasi langsung dari ruang bakar. Kemudian dari secondary superheater, uap mengalir ke turbin tekanan tinggi.
D.  Air pengisi
Tujuan menaikkan suhu air pengisi Boiler adalah :
      Menghindarkan thermal stress
      Mengurangi kerja Boiler
      Menaikkan effisiensi Boiler.
            Tujuan menaikkan kemurnian air pengisi adalah mencegah deposit, kerak dan korosi pada pipa pemanas, pipa boiler, suhu turbin.
            Tujuan menaikkan tekanan air pengisi Boiler adalah :
      Agar tidak menjadi uap
      Agar dapat masuk ke boiler drum.
      Jenis – jenis atau tipe sootblower ini terbagi 3 (tiga), yaitu : Tipe Fully Retracable,Half Retracable dan Rotary.
     Fully Retracable
            Fully retracable adalah tipe sootblower yang pipa Sootblowernya berada diluar dan masuk kedalam ketika beroperasi dan setelah itu kembali keluar, berada pada area superheater.
     Half Retracable
            Half retracable adalah tipe sootblower yang pipa sootblowernya setengah berada didalam dan setengah lagi berada diluar. Pipa tersebut masuk secara keseluruhan kedalam ketika beroperasi dan setelah itu kembali seperti semula, ini berfungsi untuk membersihkan permukaan pipa economizer.
     Rotary
            Rotary adalah tipe sootblower yang pipa sootblowernya berada didalam ketika beroperasi pipa akan berputar satu putaran penuh, kesemuanya pipa sootblower ini berada di area air heater.

E.  Sistem Bottom Ash Screw
            Sistem pembuangan bottom ash dengan menggunakan Ash Screw ini proses kerjanya bottom ash yang mengalir dari furnace terbuang keluar melalui screm yang didinginkan oleh aliran air pendingin. 
F.   Sistem Bottom Ash Stripper Cooler
            Sistem pembuangan bottom ash dengan stripper cooler ini memiliki beberapa ruang dalam proses pendinginan bottom ash yang mengalir dari furnace.  Ruang tersebut adalah stripper, cooler 1, cooler 2 dan cooler 3. Urutan aliran bottom ash keluar dari furnace menuju stripper kemudian ke cooler 1 setelah itu ke cooler 2 dan terakhir ke cooler 3, ketika proses aliran didalam stripper dan cooler terjadi ash yang ringan akan kembali kedalam furnace.
3.2.2 Komponen Utama Boiler CFB
Boiler tipe CFB memiliki beberapa komponen utama, yaitu:
  • Furnace. Komponen utama: Wall tube, Panel Evaporator, Panel Superheater
·         Cyclone sparator. Komponen utama : Cyclone, SealPot, Seal Pot Duct.
·         Backpass. Komponen utama : Finishing Superheater, Low Temperature Superheater, Economizer, Tubular Air Heater.
A.    Konsep pembakaran
·         Pembakaran dengan SOx dan NOx yang rendah
·         Pembakaran yang efisien (tara kalor rendah)
·         Coal dibakar pada bagian `bed of hot material yang mengambang dan bersirkulasi dalam furnace karena kecepatan udara yang tinggi sehingga menyebabkan fluidisasi pada bed material.
·         Bed inventory terdiri dari coal fuel, sorbent, inert sand, dan reinjected coal dari cyclone.

B.     Proses pembakaran
·         Coal dan limestone dimasukkan ke dalam Furnace, serta fluidizing air / primary air dari air plenum melalui nozzle grate.
·         Aliran turbulen menyebabkan coal cepat bercampur dengan limestone secara merata pada bed material. Fluidizing air dan bed temperatur menyebabkan material terbakar dan sirkulasi.
·         Material yang telah terbakar semakin lama naik ke bagian atas furnace karena massanya berkurang kemudian masuk cyclone separator melalui transition piece, sehingga flue gas dan fly ash terpisah dari material.
·         Material solid berputar menuju cyclone outlet cone dengan bantuan udara dari fluidizing air blower menuju seal pot dan diinjeksikan kembali ke furnace melalui seal pot return duct.
C.     Kontrol pembakaran boiler cfb
·         Pressure drop of primary zone (chamber utama) yang mengindikasikan density bed material sebagai variabel kontrol yang digunakan untuk mengontrol bed temperatur.
·         Pressure drop of secondary zone (chamber bagian atas) mengindikasikan density upper furnace digunakan untuk mengevaluasi jumlah material.
·         Bed temperatur sebagai parameter yang dikontrol untuk menghasilkan pembakaran yang efisien.






























1 komentar:

  1. BWT - Anti korosi berfungsi untuk menghambat terbentuknya kerak pada boiler sekaligus memberikan perlindungan secara menyeluruh terhadap serangan korosi pada permukaan logam jenis besi dan tembaga maupun logam campuran pada boiler sistem / Hot water jenis resirkulasi . Chemical ini digunakan khusus untuk perawatan boiler.

    Spesifikasi :
    - Bentuk : Cair
    - Kemasan : 30 Liter/pail

    Untuk info lebih lengkap silahkan menghubungi nomer kami.(081310849918)
    terimakasih.

    BalasHapus